Karakter:
1. Siti Aminah
2. Ali Putra
3. Erni (Ibu Aminah)
4. Joko (Ayah Aminah)
5. Sulastri (Ibu Ali)
6. 7. 8. Tim SAR
Di lereng Gunung Dempo, terdapat
sebuah pedesaan yang cukup ramai. Keluarga yang telah mendapat dampak dari
modernisasi masih sangat sedikit. Perbedaan “Si Kaya” dan “Si Miskin” juga
nampak jelas.
Sore itu, Siti Aminah yang berasal
dari keluarga yang kolot sedang duduk berdua di depan rumahnya dengan Ali Putra
yang notabene berasal dari keluarga yang kaya.
Ali : Sepertinya kita akan segera berpisah, Aminah.
Aminah : Lho, kenapa bicara seperti itu?
Ali : Begini, dua hari lagi aku beserta keluarga akan pindah ke
tempat yang lebih aman. Daerah sini akan jadi daerah rawan longsor.
Aminah : Bagaimana bisa? Kita berdua sudah tinggal di sini sejak kecil,
dan selama itu belum pernah ada kejadian tanah longsor, bukan?
Ali : Itu kan dulu. Aminah, buka matamu! Lihat sekelilingmu! Pohon
sudah banyak yang ditebang dan tanah di lereng gunung ini sudah banyak yang
gundul. Sebentar lagi musim hujan akan tiba. Potensi terjadinya tanah longsor
akan semakin besar.
Aminah : (sedih) Aku tidak bisa mempercayai itu.
Ali : Tapi itu semua kenyataan, Aminah. Aku mengerti perasaanmu,
tapi-
Sulastri : (menjewer Ali) Ternyata kamu di sini, ya! Dasar anak kurang
ajar! Ibu sedang sibuk mengemasi barang-barang kamu malah pacaran di rumah
orang. (nunjuk Aminah) Kamu Juga! Jangan menggoda anak lelaki orang dong!
Erni : (keluar dari dalam rumah) Ehhh!! Jangan seenaknya marah-marah
ke anak gadis orang dong!
Sulastri : Lha, memang anak kamu menggoda anak saya!
Erni : Enak saja! Anak saya tidak mungkin seperti itu. Anak kamu tuh
yang seenaknya datang kemari lalu mengajak anak saya mengobrol.
Sulasti : Susah, ya, bicara dengan orang miskin. Sudahlah, ayo, Ali!
Kita pulang!
Ali : I-iya, Bu.
(Kemudian, Ali dan Sulastri pergi)
Erni : Dasar! Kaya tapi sombong, tidak akan berkah tuh hartanya!
(menjewer Aminah) Kamu juga, kok mau jadi pacar Ali. Sudah tahu tabiat keluarganya
jelek tapi masih saja tidak mendengarkan kata-kata ibu.
Aminah : Habisnya, Ali tidak seperti orangtuanya, bu. Dia baik dan
tidak sombong.
Erni : itu kan biar bisa mengambil hati kamu saja. Sudah, kamu masuk,
gih!
Aminah : Iya, bu.
Keesokan harinya, di depan rumah Aminah.
Aminah : (melamun)
Erni : (berdiri di ambang pintu) Wah… wah… pak, lihat anakmu ini!
Pagi-pagi sudah melamun di teras rumah.
Joko : (dari dalam rumah) Biarkan saja, bu.
Erni : lihat dulu kenapa toh, mas?
Joko : (keluar rumah sambil bergumam kesal) Memang kenapa- (kaget)
Lho? (memegang bahu Aminah)
Aminah : (tersadar) Lho? Ibu? Ayah?
Joko : Kamu melamunin apa, nak?
Aminah : hehe (nyengir) Aminah sedang memikirkan tanah longsor.
Joko : kenapa tiba-tiba memikirkan itu?
Aminah : Kemarin, Ali memberitahu mengenai tanah longsor. Saya jadi
kepikiran, apa benar daerah kita ini rawan bencana longsor.
Erni : Kamu kok bisa kepikiran begitu, sudah bertahun-tahun kita
tinggal di sini dan tidak pernah terjadi longsor. Sudahlah, jangan cemas. Ali
cuma membohongi kamu, nak.
Joko : Selain itu, nak. Kita mau pindah kemana? Keluarga kita jauh,
kita cuma punya tanah ini satu-satunya untuk tempat tinggal. Semoga kamu
mengerti, Aminah.
Aminah : Aku mengerti, pak, bu.
Erni : Nah, kalau sudah mengerti, ayo bantu ibu masak!
Aminah : baiklah, bu.
Esok harinya lagi, tepat di hari Ali akan pindah rumah.
Ali : Aminah, ini perpisahan.
Aminah : (hendak menangis) Aku tahu. Aku pasti merindukanmu.
Ali : Aminah, ikut saja denganku! Kau pasti aman!
Sutirna : Ali, cepat sedikit. Travel sudah menunggu!
Aminah : pergilah! Aku tak akan apa-apa tinggal di sini.
Ali : Kuharap begitu. Sampai jumpa! (pergi)
Setelah perpisahan tersebut,
Aminah terus menangis di dalam rumah. Hal tersebut membuat orangtuanya menjadi
kesal.
Erni : Berhentilah menangis! Lelaki seperti itu saja kau tangisi!
(memengang bahu Aminah) Sebagai wanita kau jangan lemah!
Joko : Ibumu benar. Kau tak perlu menangisinya.
Aminah : tapi bu-
Erni : Apalagi?! Kamu ini tidak sadar-sadar, ya. Sampai-sampai
menangisi lelaki kurang ajar seperti dia. Asal kamu tahu, ya, Aminah! Aku,
sebagai ibumu bahkan lebih memilih mati daripada nantinya akan berbisan dengan
keluarga seperti mereka!
(terdengar suara tanah jatuh)
Aminah : (bangkit dari duduk) Bu, suara apa itu?
Erni : (panik) hah?!
Joko : (sadar) Aminah, Erni, cepat keluar dari rumah.
Aminah : (kejatuhan atap dsb) Ibu!!! Ayah!!! Tolong!!!!!!
Erni dan Joko : (sudah keluar)
(Pagi harinya TIM SAR datang)
Joko : (menangis) Pak, tolong cari anak saya!
Tim SAR 1 : Baiklah, Pak, anak bapak pasti
akan kami temukan. Bapak sebaiknya kembali ke tenda pengungsian.
Erni : tapi anak saya-
Ali : Pak Joko!! Dimana Aminah?! Apa dia selamat?!
Joko : Nak Ali, Aminah belum ditemukan. Kami tidak tahu dia selamat
atau tidak.
Tim SAR 2 : Pak, saya menemukan seorang
wanita di sini!
Joko : Itu anak saya!
Tim SAR 3 : Maaf Pak, dia harus diperiksa
tim forensik dulu.
Ali : (berlari dan menangis di mayat Aminah) AMINAH!
TAMAT
tolong patuhi tata tertib untuk komentar dibawah ini"":
1. tidak boleh berkomentar yang bersifat spam.
2. jangan menyertakan alamat/link langsung.
3. jika komentarnya tidak terjawab oleh admin maafkan karna saya sibuk<>> EmoticonEmoticon